Headlines News :

Pages

Tampilkan postingan dengan label EKBIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EKBIS. Tampilkan semua postingan

Tak Adil Bandingkan Harga BBM RI dan Negara Tetangga


JAKARTA - Membandingkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia menurut Anggota Komisi VII DPR Kurtubi dinilai tidak adil. Alasannya lantaran kondisi geografis RI yang lebih besar, meski begitu dia menekankan saat ini menjadi momen yang tepat untuk menurunkan harga BBM di tengah kejatuhan harga minyak mentah dunia. 

"Tidak pas jika beberapa kalangan membandingkan harga BBM di Indonesia dengan negara tetangga, semisal Singapura dan Malaysia. Dilihat dari kondisi geografis dan luas wilayah saja, Indonesia jauh lebih besar dan luas dibandingkan negara tetangga," jelasnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (9/3/2016). 

Dia menambahkan dengan kondisi demikian, tentu saja biaya angkut di Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan negara tetangga.  “Tidak aple to aple membandingkan Indonesia dengan negara tetangga. Indonesia sangat luas dan terdiri atas ribuan pulau. Tentu ongkos membawa BBM ke berbagai wilayah sangat mahal. Perlu pesawat untuk mengangkut BBM, sedangkan Singapura misalnya, sangat murah karena cukup mempergunakan truk,” lanjutnya. 

Sementara itu dari sisi Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU), Direktur Eksekutif IRESS Marwan Batubara melihat, SPBU asing yang saat ini menjual BBM lebih mahal ketimbang Pertamina. Untuk itu, seharusnya pemerintah melalui BPH Migas menjalankan fungsi regulator untuk bisa mengatur SPBU asing tersebut agar menurunkan harga. “Minimal mempertanyakan, mengapa Shell dan Total tidak mau menurunkan harga,” kata Marwan. 

Harga BBM di SPBU asing, menurutnya saat ini memang lebih mahal. Shell misalnya, menjual jenis V-Power Rp9.100 per liter. Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Pertamax 95 keluaran Pertamina, yakni Rp8.850 per liter. (Baca Juga: Lebih Mahal dari Malaysia, Harga BBM RI Tak Wajar)

Lanjut dia merujuk pada formula yang sudah ditetapkan, harga jual Shell memang jauh lebih tinggi. Dengan mengacu langsung pada Means of Platt Singapore (MOPS) plus biaya distribusi 2%, plus margin SPBU. Harga Shell jenis Super, misalnya, harusnya dijual hanya Rp7.000 per liter, karena hanya dijual di Jakarta. 

Untuk itu dia juga mengimbau masyarakat agar lebih jeli. Kalau harga sudah mahal sebaiknya tidak usah dibeli, karena secara kualitas sebenarnya produk Pertamina juga lebih baik. “Kalau perlu diumumkan di publik, bahwa BBM SPBU asing tersebut sudah sangat mahal, jangan dibeli. Sebaiknya masyarakat beralih ke produk yang dijual oleh perusahaan negara, yang 100% milik rakyat,” tegasnya.



Harga Pertamax dan Pertalite Turun Lagi Hari Ini


JAKARTA - PT Pertamina (Persero) menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) umum jenis Pertamax, Pertamax Plus, Pertamina Dex dan Pertalite Rp200 per liter seiring dengan tren harga minyak mentah dunia.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, penurunan ini sejalan dengan terus menurunnya harga minyak mentah dunia yang berpengaruh pada harga indeks pasar produk-produk BBM tersebut. Harga bahan bakar tersebut umumnya turun sebesar Rp200 per liter dari harga yang berlaku pada periode 1 Maret 2016.

Dia mencontohkan, harga Pertamax di Jakarta yang semula Rp7.950 per liter turun menjadi Rp7.750 per liter dan Pertamax Plus turun dari Rp8.950 per liter menjadi Rp8.750 per liter di Jakarta. Penurunan harga juga terjadi pada produk diesel berkualitas tinggi, Pertamina Dex. 

Di Jakarta, Pertamina Dex mulai 15 Maret akan dijual dengan harga Rp8.600 per liter dari semula Rp8.800 per liter. Adapun, Pertamax Racing tidak mengalami perubahan. 

"Penurunan ini ditetapkan dengan memperhatikan perkembangan harga minyak mentah dan produk dunia. Besaran penurunan harga sebesar Rp200 per liter berlaku sama untuk seluruh daerah dan untuk produk Pertamax/Bio Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina Dex yang berlaku terhitung mulai 15 Maret pukul 00.00," kata Wianda dalam rilisnya yang diterima Sindonews di Jakarta, Selasa (15/3/2016).‎

Untuk bahan bakar umum jenis lainnya, Pertalite juga turun Rp200 per liter. Di mana, di Jakarta Pertalite dijual di harga Rp7.500 per liter, turun dari Rp7.700 per liter. Solar/Biosolar nonsubsidi mengalami penurunan lebih dalam yaitu Rp400 per liter di seluruh daerah.

 

Style5

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. newsdetikterakhir - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger